KEBENARAN MUTLAK DAN KEBENARAN SEMENTARA
Berbicara tentang kebenaran, tak akan pernah bisa lepas dari yang namanya kebetulan. Karena sebagai orang sulit membedakan apa itu kebenaran dan kebetulan. Kebenaran adalah sesuatu yang di anggap benar, dan berkaitan dengan norma. Sedangkan kebetulan itu seperti, kalau kita sedang berjalan, kemudian bertemu dengan seorang teman, itulah yang dinamakan kebetulan.
Dalam hal ini kita akan membahas tentang "kebenaran".
Kebenaran mutlak adalah kebenaran yang hakiki dan sejati, sesuatu yang dapat melihat dan menyatakan keseluruhan realitas secara objektif, apa adanya. Kebenaran mutlak ini harus hanya ada satu saja dan merupakan suatu acuan atau standar bagi apa yang di sebutkan dengan kebenaran relatis.
Kebenaran mutlak Itu ada, namun tak semua orang meyakini itu, tapi bagi kita yang beragama islam menyatakan bahwa kebenaran yang mutlak adalah kebenaran yang datangnya dari allah SWT. Dan sebagai seorang muslim kita haruslah senantiasa meyakininya. Karena jika tidaj, sama dwngan percuma kita beragama islam bila kita sendiri tidak meyakini keislaman kita.
Kebenaran ada yang bersifat mutlak, adapula yang bersifat sementara.
Salah saty pandangan berkata tidak ada kebenaran mutlak yang dapat mentakrifkan realitu. Merka yang memegang pandangan ini percaya bahwa segala sesuatu adalah realiti kepada sesuaty yang lain dan dengan demikian tidaj akan ada realitu sebenar. Karena ity, akhirnya tidaj ada kemutlakan moral, tidak ada kuasa untuk memutuskan apakah suaty tindakan itu positif atau negatif, benar atau salah pandangan inu mengarah kepada "etika situasi" yaitu kepercayaan bahwa apa yang benar atay salah adalah relatif kepada situasi. Karena itu tidaj ada benar atau salah, apa pun yang terasa atau kelihatan benar pada masa itu dalan situasi yang benar. Tentu saja etuja sityasi membawa kepada penilaian subjektif, mentalitu dan gaya hidup"apapun terasa baik" yang mengakibatkan banyak kesan buruk terhadap masyarakat dan individu.
Sedangkan kebenaran sementara adalah kebenaran manusia dari sudut pandangnya sendiru yang terbatas terhadap kebenaran mutlak tersebut. Hanya ada satu kebenaran mutlak, yang bersifat objektif, yang dikelilingi oleh banyak kebenaran sementara yang bersifat subyektif. Berbicara tentang kebenaran, tak akan pernah bisa lepas dari yang namanya kebetulan. Karena sebagai orang sulit membedakan apa itu kebenaran dan kebetulan. Kebenaran adalah sesuatu yang di anggap benar, dan berkaitan dengan norma. Sedangkan kebetulan itu seperti, kalau kita sedang berjalan, kemudian bertemu dengan seorang teman, itulah yang dinamakan kebetulan.
Dalam hal ini kita akan membahas tentang "kebenaran".
Kebenaran mutlak adalah kebenaran yang hakiki dan sejati, sesuatu yang dapat melihat dan menyatakan keseluruhan realitas secara objektif, apa adanya. Kebenaran mutlak ini harus hanya ada satu saja dan merupakan suatu acuan atau standar bagi apa yang di sebutkan dengan kebenaran relatis.
Kebenaran mutlak Itu ada, namun tak semua orang meyakini itu, tapi bagi kita yang beragama islam menyatakan bahwa kebenaran yang mutlak adalah kebenaran yang datangnya dari allah SWT. Dan sebagai seorang muslim kita haruslah senantiasa meyakininya. Karena jika tidaj, sama dwngan percuma kita beragama islam bila kita sendiri tidak meyakini keislaman kita.
Kebenaran ada yang bersifat mutlak, adapula yang bersifat sementara.
Salah saty pandangan berkata tidak ada kebenaran mutlak yang dapat mentakrifkan realitu. Merka yang memegang pandangan ini percaya bahwa segala sesuatu adalah realiti kepada sesuaty yang lain dan dengan demikian tidaj akan ada realitu sebenar. Karena ity, akhirnya tidaj ada kemutlakan moral, tidak ada kuasa untuk memutuskan apakah suaty tindakan itu positif atau negatif, benar atau salah pandangan inu mengarah kepada "etika situasi" yaitu kepercayaan bahwa apa yang benar atay salah adalah relatif kepada situasi. Karena itu tidaj ada benar atau salah, apa pun yang terasa atau kelihatan benar pada masa itu dalan situasi yang benar. Tentu saja etuja sityasi membawa kepada penilaian subjektif, mentalitu dan gaya hidup"apapun terasa baik" yang mengakibatkan banyak kesan buruk terhadap masyarakat dan individu.
Sedangkan kebenaran sementara adalah kebenaran manusia dari sudut pandangnya sendiru yang terbatas terhadap kebenaran mutlak tersebut. Hanya ada satu kebenaran mutlak, yang bersifat objektif, yang dikelilingi oleh banyak kebenaran sementara yang bersifat subyektif.
Dalam hal ini kita akan membahas tentang "kebenaran".
Kebenaran mutlak adalah kebenaran yang hakiki dan sejati, sesuatu yang dapat melihat dan menyatakan keseluruhan realitas secara objektif, apa adanya. Kebenaran mutlak ini harus hanya ada satu saja dan merupakan suatu acuan atau standar bagi apa yang di sebutkan dengan kebenaran relatis.
Kebenaran mutlak Itu ada, namun tak semua orang meyakini itu, tapi bagi kita yang beragama islam menyatakan bahwa kebenaran yang mutlak adalah kebenaran yang datangnya dari allah SWT. Dan sebagai seorang muslim kita haruslah senantiasa meyakininya. Karena jika tidaj, sama dwngan percuma kita beragama islam bila kita sendiri tidak meyakini keislaman kita.
Kebenaran ada yang bersifat mutlak, adapula yang bersifat sementara.
Salah saty pandangan berkata tidak ada kebenaran mutlak yang dapat mentakrifkan realitu. Merka yang memegang pandangan ini percaya bahwa segala sesuatu adalah realiti kepada sesuaty yang lain dan dengan demikian tidaj akan ada realitu sebenar. Karena ity, akhirnya tidaj ada kemutlakan moral, tidak ada kuasa untuk memutuskan apakah suaty tindakan itu positif atau negatif, benar atau salah pandangan inu mengarah kepada "etika situasi" yaitu kepercayaan bahwa apa yang benar atay salah adalah relatif kepada situasi. Karena itu tidaj ada benar atau salah, apa pun yang terasa atau kelihatan benar pada masa itu dalan situasi yang benar. Tentu saja etuja sityasi membawa kepada penilaian subjektif, mentalitu dan gaya hidup"apapun terasa baik" yang mengakibatkan banyak kesan buruk terhadap masyarakat dan individu.
Sedangkan kebenaran sementara adalah kebenaran manusia dari sudut pandangnya sendiru yang terbatas terhadap kebenaran mutlak tersebut. Hanya ada satu kebenaran mutlak, yang bersifat objektif, yang dikelilingi oleh banyak kebenaran sementara yang bersifat subyektif. Berbicara tentang kebenaran, tak akan pernah bisa lepas dari yang namanya kebetulan. Karena sebagai orang sulit membedakan apa itu kebenaran dan kebetulan. Kebenaran adalah sesuatu yang di anggap benar, dan berkaitan dengan norma. Sedangkan kebetulan itu seperti, kalau kita sedang berjalan, kemudian bertemu dengan seorang teman, itulah yang dinamakan kebetulan.
Dalam hal ini kita akan membahas tentang "kebenaran".
Kebenaran mutlak adalah kebenaran yang hakiki dan sejati, sesuatu yang dapat melihat dan menyatakan keseluruhan realitas secara objektif, apa adanya. Kebenaran mutlak ini harus hanya ada satu saja dan merupakan suatu acuan atau standar bagi apa yang di sebutkan dengan kebenaran relatis.
Kebenaran mutlak Itu ada, namun tak semua orang meyakini itu, tapi bagi kita yang beragama islam menyatakan bahwa kebenaran yang mutlak adalah kebenaran yang datangnya dari allah SWT. Dan sebagai seorang muslim kita haruslah senantiasa meyakininya. Karena jika tidaj, sama dwngan percuma kita beragama islam bila kita sendiri tidak meyakini keislaman kita.
Kebenaran ada yang bersifat mutlak, adapula yang bersifat sementara.
Salah saty pandangan berkata tidak ada kebenaran mutlak yang dapat mentakrifkan realitu. Merka yang memegang pandangan ini percaya bahwa segala sesuatu adalah realiti kepada sesuaty yang lain dan dengan demikian tidaj akan ada realitu sebenar. Karena ity, akhirnya tidaj ada kemutlakan moral, tidak ada kuasa untuk memutuskan apakah suaty tindakan itu positif atau negatif, benar atau salah pandangan inu mengarah kepada "etika situasi" yaitu kepercayaan bahwa apa yang benar atay salah adalah relatif kepada situasi. Karena itu tidaj ada benar atau salah, apa pun yang terasa atau kelihatan benar pada masa itu dalan situasi yang benar. Tentu saja etuja sityasi membawa kepada penilaian subjektif, mentalitu dan gaya hidup"apapun terasa baik" yang mengakibatkan banyak kesan buruk terhadap masyarakat dan individu.
Sedangkan kebenaran sementara adalah kebenaran manusia dari sudut pandangnya sendiru yang terbatas terhadap kebenaran mutlak tersebut. Hanya ada satu kebenaran mutlak, yang bersifat objektif, yang dikelilingi oleh banyak kebenaran sementara yang bersifat subyektif.
Komentar
Posting Komentar